Kamis, 20 Mei 2010

Independent Learning

Oleh: Umar Khalid, Mei 2010

PENDAHULUAN
Istilah pengajaran (instruksional) dan pembelajran (learning) berbeda konsep. Pengajaran lebih mengarah pada pemberian pengetahuan dari guru kepada siswa, seadngkan pembelajaran lebih mengarah pada upaya membelajarkan siswa.
Pembelajaran dalam suatu definisi dipandang sebagai upaya mempengaruhi siswa agar belajar. Hasil dari pembelajaran adalah siswa akan belajar sesuatu yang mereka tidak akan pelajari tanpa adanya tindakan pembelajar dan siswa akan mempelajari sesuatu dengan cara yang lebih efisien. Dalam mencapai tujuan pembelajaran diperlukan sebuah strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran adalah cara dan seni untuk menggunakan semua sumber belajar dalam upaya membelajarkan siswa. Sebuah strategi (model) pembelajaran efektif untuk sebuah kondisi tetapi belum tentu efektif untuk kondisi yang lain.
Strategi belajar bersifat individual, artinya strategi belajar yang efektif bagi diri seseorang belum tentu efektif bagi orang lain. Untuk memperoleh strategi belajar efektif, seseorang perlu mengetahui serangkaian konsep yang akan membawanya menemukan strategi belajar yang paling efektif bagi dirinya. Sebuah model pembelajaran yang dianggap sesuai untuk mengakomodasi minat masing-masing siswa adalah pembelajaran mandiri (independent learning). Belajar mandiri bukan berarti belajar sendiri. Seringkali orang menyalahartikan belajar mandiri sebagai belajar sendiri. Belajar mandiri berarti belajar secara berinisiatif, dengan ataupun tanpa bantuan orang lain, dalam belajar. Tulisan ini membahas pengertian dan karakteristik independent learning (belajar mandiri) serta kelebihan dan kelemahannya.


PEMBAHASAN
A. Pengertian Independent Learning
Ada beberapa istilah yang mengacu pada pengertian yang sama tentang independent learning (belajar mandiri), yaitu sel-directed learning dan autonomous learning. Berikut beberapa pengertian independent learning (http://sn2dg.blogspot.com):
• Wedemeyer (1973) menjelaskan bahwa independent learning (belajar mandiri) adalah cara belajar yang memberikan derajat kebebasan, tanggung jawab dan kewenangan yang lebih besar kepada pembelajar dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan belajarnya. Pembelajar mendapatkan bantuan bimbingan dari guru atau orang lain tapi bukan bearti harus bergantung kepada mereka.
• Dodds (1983) menjelaskan bahwa belajar mandiri adalah sistem yang memungkinkan siswa belajar secara mandiri dari bahan cetak, siaran ataupun bahan pra-rekam yang telah terlebih dahulu disiapkan; istilah mandiri menegaskan bahwa kendali belajar serta keluwesan waktu maupun tempat belajar terletak pada siswa yang belajar.
• Rowntree (1992) menjelaskan bahwa ciri utama pendidikan terbuka yang menerapkan sistem belajar mandiri adalah adanya komitmen untuk membantu pembelajar memperoleh kemandirian dalam menentukan keputusan sendiri tentang 1) tujuan atau hasil belajar yang ingin dicapainya; 2) mata ajar, tema, topic atau issu yang akan ia pelajari; 3) sumber-sumber belajar dan metode yang akan digunakan; dan 4) kapan, bagaimana serta dalam hal apa keberhasilan belajarnya akan diuji (dinilai).

Dalam independent learning, guru/tutor berperan sebagai fasilitator yang memungkinkan pembelajar dapat secara mandiri: 1) mendiagnosa kebutuhan belajarnya sendiri; 2) merumuskan/menentukan tujuan belajarnya sendiri; 3) mengidentifikasi dan memilih sumber-sumber belajarnya sendiri (baik sumber belajar manusia atau non-manusia); 4) menentukan dan melaksanakan strategi belajarnya; dan 4) mengevaluasi hasil belajarnya sendiri.
Dari beberapa pendapat ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam pendidikan dengan sistem belajar mandiri pembelajar diberikan kemandirian (baik secara individu atau kelompok) dalam menentukan 1) tujuan belajarnya (apa yang harus dicapai); 2) apa saja yang harus dipelajari dan dari mana sumber belajarnya (materi dan sumber belajar); 3) bagaimana mencapainya (strategi belajar); dan 4) kapan serta bagaimana keberhasilan belajarnya diukur (evaluasi).

B. Karakteristik Independent Learning
Pembelajaran dengan sistem belajar mandiri mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dengan pendidikan dengan sistem lain. Knowles (1975) menyatakan bahwa sistem belajar mandiri bukan cara belajar yang tertutup, dimana pembelajar belajar secara sendiri tanpa bantuan orang lain. Tetapi, belajar mandiri terjadi dengan bantuan orang lain seperti guru, tutor, mentor, narasumber, dan teman sebaya. Knowles membedakan sistem belajar mandiri dengan sistem belajar tradisional dengan istilah pedagogi dan andragogi. Konsep pedagogi memandang pembelajar sebagai obyek, dalam hal ini pembelajar diajarkan (being taught) tentang sesuatu. Sedangkan konsep andragogi memandang pembelajar sebagai subyek, peran guru adalah membantu belajar.
Sistem belajar mandiri memberikan peluang kepada pembelajar untuk menyesuaikan diri dengan tujuan, sumber belajar dan kegiatan-kegiatan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Sedangkan pada belajar individual, kesempatan untuk hal ini tidak ada. Semuanya telah ditentukan oleh guru atau pembuat program secara “top-down”, baik dari segi tujuan, sumber belajar dan kegiatan-kegiatan belajarnya. Karakteristik utama pendidikan dengan sistem belajar mandiri adalah tanggung jawab dalam mengendalikan dan mengarahkan belajarnya sendiri berada ditangan pembelajar. Karakteristik umum lainya, menurut Institut for Distance Education of Maryland University, pendidikan dengan sistem belajar mandiri memiliki karakteristik: 1) membebaskan pembelajar untuk tidak harus berada pada satu tempat dalam satu waktu tertentu; 2) disediakannya berbagai bahan (materials) termasuk panduan belajar dan silabus yang rinci serta akses ke semua anggota fakultas (penyelenggara pendidikan) yang memberikan layanan bimbingan, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pembelajar, dan mengevaluasi karya-karya para pembelajar; 3) komunikasi antara pembelajar dengan instruktur atau tutor dicapai melalui satu atau kombinasi dari beberapa teknologi komunikasi seperti telepon, voice-mail, konferensi melalui komputer, surat elektronik, dan surat-menyurat secara reguler.
Namun demikian, ketiadaan atau keterpisahan jarak (kelas), antara pembelajar dengan fakultas (tutor) dan pembelajar lainnya, bukan merupakan karakteristik utama dari pendidikan dengan sistem belajar mandiri. Pernyataan ini menjelaskan bahwa sistem belajar mandiri tidak hanya terjadi dalam pendidikan jarak jauh dimana antara pembelajar dan guru terpisah oleh jarak dan waktu. Dalam pendidikan konvensional sekalipun, apabila pembelajar diposisikan sebagai subyek dimana mereka diberi tanggung jawab untuk mengendalikan dan mengarahkan belajarnya sendiri, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan tersebut menggunakan sistem belajar mandiri.
Wedemeyer (1968, dalam http://sn2dg.blogspot.com) menyebutkan sepuluh karakteristik sistem belajar mandiri. Kesepuluh karakteristik tersebut meliputi:
1) sistem harus dapat dilakukan disemua tempat dimana terdapat pembelajar, walaupun hanya satu orang pembelajar, baik dengan atau tanpa kehadiran guru pada saat dan tempat yang sama;
2) sistem harus memberikan tanggung jawab untuk belajar yang lebih besar kepada pembelajar;
3) sistem harus membebaskan anggota fakultas dari tipe tugas lain yang tidak relevan, sehingga lebih banyak waktu digunakan sepenuhnya untuk tugas-tugas pendidikan;
4) sistem harus menawarkan kepada pembelajar pilihan yang lebih luas (lebih banyak peluang) baik dari segi mata kuliah, bentuk, maupun metodologi;
5) sistem harus memanfaatkan, segala bentuk media dan metode pembelajaran yang telah terbukti efektif;
6) sistem harus mencampur dan mengkombinasikan media dan metode sehingga setiap topik atau unit dalam suatu mata kuliah diajarkan dengan cara yang terbaik;
7) sistem harus mempertimbangkan desain dan pengembangan mata ajar yang sesuai dengan program media yang sudah ditetapkan;
8) sistem harus memelihara dan meningkatkan peluang untuk dapat beradaptasi dengan perbedaan-perbedaan individu;
9) sistem harus mengevaluasi keberhasilan belajar secara sederhana, dengan tidak harus menjadikan hambatan berkaitan dengan tempat dimana pembelajar belajar, kecepatan belajar mereka, metode yang mereka gunakan atau urutan belajar yang mereka lakukan; dan
10) sistem harus memungkinkan pembelajar untuk memulai, berhenti dan belajar sesuai dengan kecepatanya.

Derajat kemandirian belajar yang diberikan oleh suatu lembaga (program) pendidikan kepada pembelajarnya berbeda-beda. Derajat kemandirian belajar yang diberikan kepada pembelajar dapat dilihat dari tiga aspek: 1) kemandirian didalam menentukan tujuan: apakah pemilihan tujuan belajar ditentukan oleh guru atau oleh pembelajar?; 2) kemandirian dalam metode belajar: apakah pemilihan dan penggunaan sumber belajar (narasumber), dan media lain keputusannya dilakukan oleh guru atau pembelajar?; dan 3) kemandirian dalam evaluasi: apakah keputusan tentang metode evaluasi dan criteria yang digunakan dibuat oleh guru atau pembelajar? Semakin besar peran kendali atau pengambilan keputusan atau inisiatif diberikan kepada pembelajar maka semakin tinggi (murni) derajat sistem belajar mandiri dari suatu lembaga pendidikan tersebut.

C. Metode Pembelajaran dalam Independent Learning
Beberapa metode pembelajaran dalam independent learning antara lain:
1. Tugas Individu
Tugas individual adalah diberikan pada waktu-waktu tertentu dalam bentuk pembuatan kliping dan majalah.
2. Tugas Kelompok
Tugas kelompok digunakan untuk menilai kompetensi kerja kelompok.
3. Demonstrasi
Merupakan metode pembelajaran yang sangat efektif dalam menolong siswa untuk mencari jawaban dari pertanyaan “bagaimana cara membuatnya, terdiri dari bahan apa, cara mana yang paling tepat, bagaimana dapat diketahui kebenarannya”.
4. Metode Diskusi
Suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama.

D. Kelebihan dan Kekurangan Independent Learning
Pembelajaran mandiri mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelebihan independent learning antara lain (Wena, 2009: 214):
• Dimungkinkannya berkembangnya fleksibilitas belajar siswa yang optimal.
• Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja.
• Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas.
Sedangkan kelemahan dari independent learning yaitu: 1) frekuensi kontak secara langsung antarsesama siswa maupun antarsiswa dengan narasumber sangat minim dan 2) peluang siswa untuk bersosialisasi dengan siswa lain sangat terbatas. Guna mengatasi kelemahan tersebut, dapat dipecahkan dengan membentuk lingkungan pembelajaran yang dapat menciptakan dan mengembangkan “rasa bermasyarakat” di kalangan siswa sekalipun mereka terpisahkan secara geografis. Demikian pula guru dapat menugaskan para siswa untuk bekerja dalam beberapa kelompok untuk mengembangkan dan mempresentasikan tugas yang diberikan.


KESIMPULAN
Independent learning (belajar mandiri) adalah cara belajar yang memberikan derajat kebebasan, tanggung jawab dan kewenangan yang lebih besar kepada pembelajar dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan belajarnya. Beberapa karakteristik independent learning antara lain: 1) membebaskan pembelajar untuk tidak harus berada pada satu tempat dalam satu waktu tertentu; 2) disediakannya berbagai bahan (materials) termasuk panduan belajar dan silabus yang rinci serta akses ke semua anggota fakultas (penyelenggara pendidikan) yang memberikan layanan bimbingan, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pembelajar, dan mengevaluasi karya-karya para pembelajar; 3) komunikasi antara pembelajar dengan instruktur atau tutor dicapai melalui satu atau kombinasi dari beberapa teknologi komunikasi seperti telepon, voice-mail, konferensi melalui komputer, surat elektronik, dan surat-menyurat secara reguler.
Kelebihan independent learning antara lain: dimungkinkannya berkembangnya fleksibilitas belajar siswa yang optimal, memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja, dan menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas. Sedangkan kelemahan dari independent learning yaitu: frekuensi kontak secara langsung antarsesama siswa maupun antarsiswa dengan narasumber sangat minim dan peluang siswa untuk bersosialisasi dengan siswa lain sangat terbatas.


DAFTAR PUSTAKA

Khadifa, Sella. 2008. “Sistem Belajar Mandiri” (http://sn2dg.blogspot.com, diakses pada tanggal 3 Mei 2010)

Sandra, Yunia. 2008. “Karakteristik Independent Learning” (http://sn2dg.blogspot.com, diakses pada tanggal 3 Mei 2010)

Wena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar